Saya tidak pilih-pilih teman, tapi…

Saya tidak pilih-pilih teman, tapi…

Saya tidak pilih-pilih teman, tapi…

Sebelum saya lengkapi kalimat di atas. Mungkin saya perlu cerita sedikit tentang teman-teman saya. Teman-teman pertama saya adalah dua pasang kakak beradik, Mas Dian & Dek Mitha dan Ainun & Fathonah. Saya senang bersama mereka dan andai saja teman-teman saya cukup mereka saja. Kenapa?

Teman-teman saya akhirnya bertambah karena saya sudah mulai sekolah dan tiap hari saya pergi ke masjid untuk belajar mengaji. Teman-teman saya tambah banyak. Tapi di situlah awalnya!

Teman-teman baru saya ternyata tidak sebaik empat teman pertama saya. Kebanyakan dari mereka suka menghina saya di depan orang banyak, terutama karena masalah fisik. Sepertinya apapun bisa jadi bahan hinaan, termasuk uang jajan saya yang cuma sedikit.

Saya diam saja ketika dihina. Sampai suatu hari saya tidak tahan lagi karena mereka mulai main fisik. Saya “mengamuk” dan menyebabkan empat orang teman dan kakak kelas saya tidak berani masuk sekolah selama 2 minggu. Sejak saat itu mereka tidak lagi berani menghina saya. Ah ternyata mereka cemen, beraninya nge-bully, pas diajak berantem sama satu orang aja kalah!

Tapi itu bukan akhir segalanya. Memasuki masa remaja dan awal usia dewasa, saya terbiasa dihina dan dipermalukan di depan banyak orang. Saya berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar kejadian “mengamuk” tidak terulang. Saking kuatnya saya menahan diri, kadang badan saya gemetaran dan keringat dingin tumpah-ruah.

Tapi orang-orang lain mengira saya diam saja karena tidak berani. Mereka tidak tahu bahwa saya sedang semacam merapal mantra kayak tokoh film Frozen. Conceal… Don’t Feel… Don’t let them know. Be the good girl you always have to be.

Being bullied and shamed every single day was okay for me until….

Sampai saya merasa saya banyak berubah. Saya tidak lagi suka bercanda dan lebih pendiam. Saya lebih suka menghabiskan waktu sendirian di kamar. Teman-teman saya adalah temannya teman saya karena saya tidak suka berkenalan dengan orang baru yang tidak saya kenal sama sekali. Saya terlalu melindungi diri agar tidak lagi disakiti. Tapi anehnya, saya bertahan dengan pacar yang suka menyakiti. Mungkin karena saya hanya terlalu takut berkenalan dengan laki-laki lainnya.

Bertahun-tahun saya mencoba menyembuhkan diri. Setiap hari saya nyanyi bait lagunya LeAnn Rimes ini, “I will learn to let go what I cannot change. I will forgive what I cannot change. But I will change”.

I will learn to let go what I cannot change. I will forgive what I cannot change. But I will change.

Untung akhirnya datang era posting-posting blog dan ngetwat-ngetwit. Saya mulai berani berkenalan dengan orang baru lagi. Mulai datang ke acara-acara yang banyak orang baru di dalamnya, meski saya hanya berdiri di pojokan dan masih sulit untuk bilang, “Hai! Aku Tey, namamu siapa?” Karena saya takut tambah kenalan berarti tambah kemungkinan disakiti.

Saya punya beberapa sahabat dan bersama mereka saya merasa aman karena meskipun kami suka ejek-ejekan akrab, tapi mereka tidak akan menyakiti saya dengan menghina atau mempermalukan saya di depan umum dan menikmati keadaan waktu saat saya dipermalukan. Tidak. Saya yakin itu.

Bersama PakJay, saya merasa paling aman karena apapun yang terjadi akan ada yang belain saya. Kalau ada beliaunya, saya tidak takut punya kenalan baru. Tidak takut datang ke forum-forum asing penuh orang-orang baru.

Tapi tanpa PakJay atau sahabat-sahabat saya, belum tentu saya mau keluar rumah. Karena tidak semudah itu mengubah SOP Perlindungan Diri yang terlalu biasa saya lakukan hampir ¾ usia saya, hanya karena saya tidak ingin dihina dan dipermalukan di depan banyak orang.

Bullying & Shaming mungkin hanya hal sepele bagimu sampai kamulah korbannya

Sering saya dibilang anti-sosial (mungkin maksudnya asosial), sombong, atau tidak mau kenal teman lama dan tidak pandai bergaul. Maaf, saya hanya sedang melindungi diri. Saya tidak ingin dipermalukan di depan banyak orang (lagi). Saya tidak berniat buruk. Jika kita (masih) berteman, itu memang karena kamu sudah terbukti baik, dan saya percaya kamu.

Maaf, saya hanya sedang melindungi diri. Saya tidak ingin dipermalukan di depan banyak orang (lagi)

Saya tidak pilih-pilih teman, saya hanya memilih teman yang tidak berpotensi mempermalukan saya di depan banyak orang. Itu saja kok.

Kayak drama ya? Iya! Ya gitulah efek bullying & shaming. Bikin orang merasa dalam drama seumur hidupnya. Mudah? Mbahnya!!!

 

Catatan:

Featured image  dari posting ini diambil dari https://catherinedowd.files.wordpress.com/2015/03/57279096a5fceb93fd899d70fd5b118b.jpg

Gara-gara Internet, Laju Informasi jadi Cepat tapi Manusia jadi Mikirnya Telat

Gara-gara Internet, Laju Informasi jadi Cepat tapi Manusia jadi Mikirnya Telat

Tidak perlu panjang lebar dibahas, sudah jadi hal yang lazim bahwa perkembangan internet membuat informasi tersebar begitu cepat. Saking cepatnya, kadang manusia jadi korban “balapan informasi”, dan para penyebar informasi juga berlomba-lomba secepatnya membagikan yang dia ketahui. Kalau keduluan media lain atau orang lain kan jadi basi. Mungkin begitu…

Efeknya tentu saja tidak sedikit yang “belum layak tampil” terpaksa harus ditampilkan saat itu juga demi menang “balapan”. Efek yang paling ringan banyak salah tulis, sedangkan efek paling buruknya adalah salah data. Efek menengah ngeheknya adalah asal comot gambar ilustrasi.

Di sisi lain, para penerima informasi juga merasa “dikejar informasi” sehingga harus segera baca-sukai-bagikan. Kalau pun ada yang salah dalam informasi tersebut ya dipikir belakangan.

Selain itu para penerima informasi juga tidak banyak yang bisa membedakan mana opini dan mana berita. Juga mana berita informatif, mana berita provokatif. Pokoknya “baca-sukai-bagikan” atau “baca-(tidak suka)-lalu bagikan dengan komentar negatif. Perkara nanti bagaimana reaksi para penerima informasi dari dia, dipikir belakangan.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bagikan informasi dulu, efeknya dipikir belakangan

Sayangnya apa yang mau dipikir belakangan ini kadang tersalip dengan informasi selanjutnya, yang harus segera dibaca-sukai-bagikan. Akibatnya pemerima informasi menjadi berubah dari telat mikir menjadi lupa mikir atau yang paling parah adalah males mikir.

Celakanya, fitur males mikir ini sekarang sudah dilengkapi dengan fitur baru “tidak terima saran”. Tidak jarang saya temui para penyebar informasi hoax diberi pengertian oleh temannya bahwa apa yang disebarkan adalah tidak benar. Alih-alih menghapus informasi yang dia bagikan dan melakukan klarifikasi, mereka malah memutuskan pertemanan dengan yang memberi saran.

Semudah itukah pertemanan kita putus? Kenapa, mas… Kenapa? #drama

phys
This image is taken from phys.com

Yang kadang yang juga lupa dipikirkan, atau yang males dipikirkan, adalah motif dari setiap informasi yang didapatkan dari internet. Sudahkah kita bertanya apa yang ada dibalik informasi tersebut? Istilah sok kerennya adalah “we need to read what beyond, not merely what it is”.

Tapi gimana ya, mau bagiin info aja kok mesti membaca motif dan tujuan penulisnya. Kan males ya? Ya udah sih langsung percaya aja, langsung bagiin aja. Kalau nanti dia dapat follower banyak terus jualan buku dan laris ya udah sih rejeki dia.

Dalam pengamatan saya, orang-orang atau media-media yang menyuguhkan kebaruan (what’s new) dan manfaat (what’s useful) kadang tersalip jauh dengan media yang menawarkan kontroversi (what’s controversial). Semacam mercon sumbu pendek aja ya kita ini? Gampang kali disulut sama kontroversi 😛

Akhirnya kita hanya akan menjadi manusia selang. Apa yang lewat ya sekadar lewat aja tanpa perlu dikaji ulang sebelum diteruskan. Kalau yang lewat minyak ya kita akan pating klenyit dan kalau yang lewat sambel, kita akan kena pedasnya.

Apakah selamanya kita akan menjadi manusia yang berprinsip kabeh kiy dipikir keri… sing penting share ndisik (semua dipikir belakangan, yang penting bagikan duluan)?

Tanyakan pada rumput yang udah males bergoyang!

Jagung Rebus, Saya, dan Pelajaran dari Universitas Kehidupan

Jagung Rebus, Saya, dan Pelajaran dari Universitas Kehidupan

Jagung rebus adalah makanan yang bikin penasaran. Bukan apa-apa sih, hanya karena kalau saya lagi pingin, penjualnya tidak ada. Giliran saya tidak sedang kepingin, penjualnya muncul di mana-mana.

jagung_rebus_todaynipponcom

Saya suka makan jagung rebus sejak kecil. Di saat kebanyakan orang suka jagung rebus yang muda dan empuk, saya lebih suka jagung rebus yang tua dan keras. Alasan saya saat itu sederhana, saya malas makan nasi, jadi kalau sudah kenyang makan jagung rebus yang tua, saya punya alasan untuk tidak makan nasi. Percayalah… ada masa di mana saya malas makan. Iya. Beda banget sama sekarang. Iya. 😛

Sampai akhirnya tahun duaribuan, jagung rebus tidak hanya menjadi makanan kesukaan bagi saya, tapi juga menjadi solusi (baca: terpaksa, nggak ada yang lain).

Masa-masa itu adalah saat di mana saya kuliah sambil bekerja dari pagi hingga larut malam. Hanya punya tidak lebih dari Rp 7.000 untuk sehari, tentu saja itu sudah termasuk ongkos naik bus sebesar Rp 2.000 untuk sekali jalan.

Sadar bahwa saya perlu mengisi perut, saya pilih jagung rebus sebagai solusi. Waktu itu harganya Rp 1.000 saja untuk satu buah jagung rebus. Saya biasa beli dua, untuk makan siang dan makan malam. Hampir selalu begitu, kecuali jika ada teman yang baik hati mentraktir, ada acara makan-makan, atau habis gajian sebelum ingat tagihan bayar fotokopian buku.

Jagung rebus menjadi teman perjuangan. Saya sudah bersyukur sih bisa mengganjal perut dengan karbohidratnya si jagung rebus.

Seiring dengan waktu yang berjalan, sejak lima atau tujuh tahun lalu saya sudah jarang makan jagung rebus. Salah satu alasannya, mungkin karena saya sudah bisa beli nasi rames. Atau mungkin juga karena tempat “beredar” saya tidak lagi dekat dengan penjual jagung rebus.

Meskipun demikian, jagung rebus memiliki makna tersendiri untuk saya.

Beberapa tahun belakangan ini saya sering mengunyah jagung rebus dalam diam. Benar-benar diam dan kadang meneteskan air mata. Bukan karena nelangsa, tapi karena saya bersyukur karena saat ini saya sudah bisa makan lebih dari sekadar jagung rebus. Di saat yang sama, saya juga berpikir apa jadinya dengan orang-orang yang mungkin beli jagung rebus buat mengganjal perut saja sulit.

Pelajaran di balik jagung rebus ini membuat saya selalu bisa menikmati makanan yang dihidangkan di hadapan saya. Apapun itu disyukuri. Kalau enak ya alhamdulilah, kalau tidak enak ya tetap alhamdulilah. Karena ada masanya saat makanan tidak enak saja tidak mampu saya beli.

Jagung rebus juga membuat saya berhati-hati agar tidak membuang-buang makanan. Lalapan yang tidak termakan di rumah saya simpan di kulkas. Lain kali kolnya bisa dipakai buat bikin orak-arik, tinggal tambah telur dan wortel. Kacang panjangnya bisa dimasak oseng-oseng, tinggal tambahin tempe aja.

Harganya tidak seberapa, lima ratus perak pun tidak, tapi membuang makanan atau bahan makanan dalam bentuk apapun rasanya berat buat saya. Biar sih orang mau ngatain saya apa, toh saya mengerti bahwa mungkin mereka belum pernah merasakan tidak mampu beli makanan 😀

Anyway, the money is yours but the resource belongs to the society.

Kalau dalam bahasa premannya sih… padakmen nek wis duwe duit njuk oleh sembarangan buang-buang panganan po? :p

Saya masih belum tahu apakah kata artikel-artikel yang menyatakan bahwa pada saatnya nanti bumi akan semakin tua dan makanan menjadi langka itu benar. Mungkin masih jauh ya, mengingat bahwa bahan makanan masih ada banyak saat ini. Tapi saya tetap saja merasa bangga kalau bisa memanfaatkan bahan-bahan makanan dan makanan secara maksimal, kalau bisa sih tidak ada yang terbuang. Eman-eman.

Itu semua karena pengalaman saya bersama si jagung rebus.

Universe is my university and boiled corn is one of my favorite lecturers.

note: featured image is taken from todaynippon.com

LA Lights Meet the Labels dan Konser Endank Soekamti yang Petjah Abis!

LA Lights Meet the Labels dan Konser Endank Soekamti yang Petjah Abis!

LA Lights Meets the Labels hadir setiap tahun untuk memberi kesempatan kepada para musisi muda untuk bisa menyalurkan bakatnya dan bertemu dengan label musik. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan para peserta Meets the Labels di Yogyakarta, 30 Mei 2015 silam.

Sore itu lebih dari 30 orang peserta Meets the Labels Yogyakarta berkumpul di Terrace Café, Seturan, Yogyakarta untuk mengikuti serangkaian acara Meets the Labels yang dimulai dengan bincang-bincang bersama perwakilan-perwakilan dari label musik.

IMG_20150530_153655

Pada kesempatan  kali ini hadir Anton, A & R dari label DeMajors dan Ai dari Alfa Records.  Hadir juga dalam acara ini Jimmy Upstairs  (Demajors) Bengbeng Pas Band, dan Yuka (Alfa Records), yang membahas tentang tips and trick mencuri perhatian labels.

IMG_20150530_153920

Kesempatan ini tidak disia-siakan para peserta untuk bertanya jawab seputar dunia rekaman, distribusi album, dan kerja sama antara musisi dengan label. Salah satu hal yang ditanyakan peserta adalah mengenai kualitas audio untuk demo musik.

IMG_20150530_160449

Ini nih yang perlu dicatat, bahwa kualitas audio untuk rekaman demo yang diajukan ke label haruslah “pantas diperdengarkan kepada orang banyak”, jadi walaupun tidak harus melakukan rekaman di studio, namun kualitas audio rekaman demo sangatlah penting supaya label bisa dengan jelas mendengarkan demonya dan tertarik dengan karya tersebut.

Selain itu, dijelaskan pula oleh para pembicara, apa saja jenis-jenis kerja sama antara musisi dengan label, yaitu kerja sama full sign, kerja sama titip edar, kerja sama join venture, dan kerja sama master license. Apapun kerja sama yang disepakati antara kedua pihak, haruslah bersifat simbiosis musikalisme alias saling menguntungkan.

Para pembicara juga menekankan pada para peserta bahwa sebelum mereka bermimpi untuk tampil di depan publik yang luas, di tingkat nasional misalnya, mereka harus berusaha “menguasai” dulu panggung di sekitar mereka, panggung kampus atau panggung lokal daerah masing-masing untuk memperkenalkan musik mereka kepada publik.

Yuka menambahkan bahwa saat ini musisi harus juga menggunakan media sosial untuk branding dan marketing. Selain itu media sosial juga bisa digunakan untuk membuat penggemar/penonton mereka merasa dekat dengan si musisi.

IMG_20150530_165746Acara kemudian dilanjutkan dengan Coaching Clinic oleh Bengbeng Pas Band. Acara ini juga tak kalah asyiknya karena selain bisa bertanya jawab dengan Bengbeng, para peserta juga berkesempatan menonton Bengbeng menunjukkan kepiawaiannya bermain gitar. Para penonton sangat antusias!

Setelah coaching clinic, acara sore itu ditutup dengan technical meeting peserta berkaitan dengan pelaksanaan live recording di hari berikutnya sebagai salah satu rangkaian acara Meet the Labels 2015.

Tapi…tapi…tapi…keseruan belum berakhir di situ lho. Malam harinya acara berlanjut dengan lebih seru di malam hari karena ada penampilan Rega, salah satu duo musisi yang dipilih label pada Meet The Labels 2013 yang membawakan tembang-tembang romantis.IMG_20150530_214242

IMG_20150530_215523Nggak cuma pecinta lagu romantis sih yang dimanjakan di acara ini. Pecinta lagu-lagu punk-rock juga menikmati penampilan Dysplasia yang bikin penonton pun ikut headbang. Dysplasia ini adalah salah satu peserta Meet The Label 2014 yang juga terpilih oleh label untuk diterbitkan album rekamannya.

Setelah Dysplasia, dilanjutkan oleh penampilan  The Ikan Bakars yang seru banget karena membawakan karya mereka sendiri yang memadukan rap dan reggae.IMG_20150530_223013

Di acara tersebut banyak sekali Kamtis (fans Endank Soekamti) yang berdatangan dari berbagai pelosok propinsi DIY dan dari kota lain seperti dari Madiun, Jawa Timur. Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu penampilan Endank Soekamti yang menjadi penampilan puncak acara.

IMG_20150530_225509Pada saat Erik Soekamti dan teman-temannya naik ke panggung, penonton menyambut dengan yel-yel khas mereka. Penonton sangat antusias menyambut penampilan Endank Soekamti yang tampil membawakan tembang-tembang andalannya.

IMG_20150530_232929Saking antusiasnya, banyak penonton yang merangsek menuju panggung.

Bahkan beberapa penonton cewek diperbolehkan oleh Erik Soekamti untuk ikut naik panggung dan memanfaatkan momen tersebut untuk foto bersama. Meski sangat antusias, namun penonton tetap tertib.

Jadi kalau boleh disimpulkan, kesimpulannya sih cuma satu: LA Meet The Labels ini petjah abis! Seru dari awal sampai akhir!

LA Lights Meet the Labels ini memang cocok banget buat para musisi muda maupun para penikmat musik Indonesia.

Belajar Bikin Film Dalam Sehari di LA Indie Movie “Movie Day Out” 2015 di Jogja

Belajar Bikin Film Dalam Sehari di LA Indie Movie “Movie Day Out” 2015 di Jogja

Mungkin nggak kebayang ya ada kesempatan buat seharian belajar bikin film langsung dari para ahlinya? Tapi kesempatan ini benar-benar diwujudkan oleh LA Indie Movie di acaranya yang bertajuk “Movie Day Out” yang diadakan di dua kota: Yogyakarta (27 Mei 2015) dan Jakarta (4 Juni 2015).

Perhelatan Movie Day Out di Yogyakarta sudah selesai digelar pada hari Rabu, 27 Mei 2015 di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama berhasil membuat para pesertanya bertambah antusias untuk membuat film.

Sepertinya tujuan Ita Sembiring untuk mendukung, memberi kesempatan, dan membuat LA Indie Movie sebagai media generasi muda berkarya mulai terlihat hasilnya, tercermin dari antusiasme peserta yang besar.

“….Yang terjadi saat ini justru hasrat berkarya dengan penuh kreativitas terus meningkat, dibarengi kualitas prima, tapi masih saja terbatas dalam menembus jaringan bioskop. Apalah artinya karya tanpa wadah bereskpresi dan sepi penikmat” (Ita Sembiring)

Venue yang sudah siap sejak pukul 09:00 WIB mulai dipadati antrian peserta yang melakukan registerasi. Di area registerasi ini, peserta diminta untuk menuliskan pilihan minatnya antara: Directing, Acting, Film Scoring, Film Editing, Script Writing, DOP & Lighting, dan Make-up Effect untuk pembagian Experience Class di sore harinya. Beberapa peserta sudah menentukan sejak awal pilihannya, tapi ada juga yang masih galau mau pilih yang mana.

Registerasi peserta
Registerasi peserta LA Indie Movie Day Out 2015 di Jogja

Sambil menunggu acara dimulai, peserta berfoto-ria di photo booth yang sudah disediakan. Antrian untuk berfoto cukup panjang juga karena peserta yang berfoto pun tidak puas cuma dengan sekali jepret saja 😛

Foto peserta ala-ala di Red Carpet
Foto peserta ala-ala di Red Carpet

Tak kalah menarik, ada juga booth Horror Mini Studio yang isinya menakutkan tapi malah membuat semua mata tertuju ke sini. Segala macam “tokoh” menakutkan mulai dari zombie, pocongan, suster ngesot, dan lain-lain ada di sini.

Horror Mini Studio
Horror Mini Studio

Selain itu juga booth Akindo yang sedang membuka casting & open recruitment untuk beberapa posisi seperti aktris/aktor, presenter/host, dan TV Crew.

Akhirnya acara dibuka oleh Ita Sembiring dengan memperkenalkan semua pembicara Movie Day Out hari itu: Anggy Umbara, Titi Rajo Bintang, Kusen Donny, Monodzky, Barry Likumahuwa, dan Mr. Kocom.

Para Mentor di LA Indie Movie Day Out 2015 di Jogja
Para Mentor di LA Indie Movie Day Out 2015 di Jogja

Anggy Umbara

Lalu workshop pun dimulai. Peserta sudah antusias sekali menyimak materi dari Anggy Umbara mengenai penyutradaraan.

Peserta juga semangat berdiskusi tanya-jawab dengan Titi Rajo Bintang yang menjadi pembicara kedua.

Titi Rajo Bintang dikerjain "Suster Ngesot"
Titi Rajo Bintang dikerjain “Suster Ngesot”

Setelah makan siang, workshop dilanjutkan dengan materi editing film oleh Kusen Donny dan tentang DOP (Director of Photography) oleh Monodzky. Workshop juga tambah meriah dengan penyampaian Mr. Kocom yang lucu. Sambil bercerita tentang pengalamannya di bidang Make-up effect, Mr. Kocom membuat peserta terbahak-bahak karena cara bertuturnya yang sangat unik.

Acara workshop ditutup dengan materi music scoring oleh Barry Likumahuwa yang juga membawa bass dan alat-alat musik sederhana untuk mendukung presentasinya. Barry menjelaskan kepada peserta bahwa meskipun hanya dengan alat sederhana dan konsep sederhana, kita bisa membuat music scoring untuk film dengan baik. Tentu saja dengan menyesuaikan alur cerita filmnya.

Barry Likumahuwa membuka sesinya dengan bermain bass
Barry Likumahuwa membuka sesinya dengan bermain bass

Setelah acara workshop berakhir, peserta mulai saling cair berkenalan saat coffee break. Lewat perkenalan tersebut beberapa di antara mereka mulai membentuk grup yang masing-masing berisi 10 orang untuk nantinya mengajukan konsep film yang akan mereka buat untuk berpartisipasi di Movie Camp dan mendapatkan kesempatan untuk diberikan pendanaan sebesar 15 juta untuk membuat film indie mereka sendiri.

Acara yang ditunggu-tunggu peserta akhirnya datang juga! Peserta sangat antusias mengikuti Experience Class sesuai minatnya masing-masing untuk mendapatkan ilmu langsung dari para ahli secara lebih dekat.

Salah satu experience class di LA Indie Movie Day Out Jogja 2015
Salah satu experience class di LA Indie Movie Day Out Jogja 2015

Saking antusiasnya, peserta dan para mentor sampai lupa kalau waktu sudah menjelang magrib. Terpaksa deh sesi Experience Class diakhiri.

Beberapa peserta diberi kesempatan untuk melakukan simulasi pembuatan film
Beberapa peserta diberi kesempatan untuk melakukan simulasi pembuatan film

Acara kemudian dilanjutkan dengan simulasi syuting  film indie oleh para volunteer.  Beberapa dari peserta Movie Day Out ini mencoba untuk membuat film, didampingi oleh Anggy Umbara sebagai mentornya. Seru banget! Ada yang jadi pemeran, sutradara, camera man, dan lain-lain.

Akhirnya setelah seharian belajar bagaimana membuat film, acara ditutup dengan pengumunan pemberian doorprize uang tunai Rp 200.000 untuk peserta yang beruntung.

Walau acara LA Indie Movie “Movie Day Out” di Yogyakarta ini sudah berakhir, tapi ilmu yang didapatkan selama acara ini pasti masih akan terus bermanfaat untuk para peserta. Secara umum acara ini keren banget karena menghadirkan para pakar yang langsung membagikan ilmunya kepada para peserta!

Kesimpulan saya: LA Indie Movie “Movie Day Out” Keren!

Juga bermanfaat banget buat para sineas muda untuk mencari ilmu dan referensi dalam berkarya!

Hamid adalah Mbel Thut!

Hamid adalah Mbel Thut!

Saya kenal @bocahmiring, yang tidak bisa menjelaskan apa dari dirinya yang miring, sudah bertahun-tahun. Dimulai dari dunia tulas-tulis blog dan nggambleh di twitter, saya kenal Mas Hamid a.k.a @hmd, a.k.a @duajanuari, a.k.a @mukiyo.

Selain itu, Mas Hamid juga beberapa kali datang ke acara @Resepmini dengan tujuan:

Ngicipi sama motreti nek ada mbak-mbak ayu. Soale kan ndak mungkin ngicipi mbak-mbak ayune

Hamid kiy cen mbel thut!

Kemudian juga acara Bancakan 2.0 yang dulu isinya masih lanang kabeh, aku ayu dewe, membuat saya sering ketemu dia. Hampir di setiap pertemuan kami, saya kemekelen melihat wajahnya yang sering diimut-imutin padahal secara ukuran wajahnya memang se-nggladrah itu.

bancakan
Foto blawur Bancakan 2.0 ini sepertinya satu-satunya foto yang ada saya dan Mas Hamid dalam satu frame

Oya, satu lagi, lewat satu grup WA paling wagu di tahun 2013-2014 bernama “sebuah rahasia” kami juga sering bertegur sapa.

Mas Hamid menjadi spesial karena dia adalah salah satu orang yang hobi macok-macokke (menjodoh-jodohkan) saya dengan Jay Afrisando. Dulu kalau dia mulai macok-macokke, saya akan jawab dengan, “mbel thut, luweh, gombal mukiyo kowe mas!” Lalu dia akan mbalesi dengan, “Ati-ati lho, mengko cinta”

Luweh, mas. Kowe cen mbel thut! Tapi kok ya akhire aku rabi juga sama Jay ya? 😛

Saya dan Mas Hamid menjadi teman yang no news means good news. Tidak terlalu sering kontak tapi saya tahu dia baik-baik saja selama masih ada twit semliwer di timeline dari dia yang berisi petuah-petuah bijak dan juga kata-kata yang wagu mbel thut.

Sering saya hanya mbatin membaca twitnya, “Luweh, mas. Mbel Thut!”

Beberapa kali saya mengetahui kabar bahwa dia masuk rumah sakit. Saya, teman yang tidak baik dan sok sibuk ini, bahkan tidak sempat menjenguknya. Hanya sempat mengirim pesan, “cepet mari yo mas”.

Awal Mei lalu, salah satu sahabat saya, Banu Melody, sakit dan masuk UGD. Saya cukup panik mengingat sehari sebelumnya dia masih haha-hihi bercampur sakit hati :p

Mas Hamid adalah orang pertama yang menghubungi saya menanyakan keadaan Banu. Meskipun mbel thut, dia memang perhatian sama teman-temannya.

Selain membahas tentang Banu, dia mengingatkan saya tentang janji saya.

Janjimu palsu oq mbak Tey. Jaremu arep masakke aku spaghetti. Selak aku mati mengko kowe ra isa nepati.

Saya tidak pernah mengira kalau itu perbicangan terakhir kami. Waktu itu saya cuma bisa menjawab dengan, “Mbel thut! Aja ngomong mati-mati gitu sih mas. Medenin.”

Dia cuma tertawa dan bilang, “lha tapi tenan, nek aku mati, ndak bisa kamu masakin aku spaghetti”

Mas Hamid, kamu tuh mbel thut! Tapi kamu benar…..

Aku sudah tidak akan punya kesempatan lagi menepati janji.

Mas Hamid, kamu tuh mbel thut! Mbel thut tenan!!!!

Tapi kamu telah mengajari satu hal yang mungkin telah aku sepelekan: sempatkan menepati janji, bukan menepati janji kalau sempat.

hamid

Selamat jalan, Mas Hamid. Semoga tenang di sana. Salam mbel thut selalu, karena Hamid adalah mbel thut! :p

Buat aku, eh, kamu! (Surat untuk diri saya sendiri yang berumur 17 tahun)

Buat aku, eh, kamu! (Surat untuk diri saya sendiri yang berumur 17 tahun)

Beberapa waktu yang lalu saya ditanya teman saya begini, “kalau kamu punya kesempatan untuk bilang sesuatu sama dirimu sendiri yang masih umur 17 tahun, kamu mau bilang apa?”

Spontan saya jawab, “aku mau bilang terima kasih”. Tapi rasanya kata terima kasih saja belum cukup meringkas apa yang ingin saya sampaikan jika saja bertemu dengan diri saya sendiri yang masih umur 17 tahun.

Karena itu, saya coba tuliskan surat ini untuknya.

========================================================

Hai kamu, apa kabar?

Sedang lelah mencari cara bagaimana membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan bermimpi? Jangan khawatir, aku pun masih berkubang pada hal yang sama. Bedanya, aku telah belajar banyak darimu, jadi anggap saja sekarang ini bebanku lebih ringan karena kamu sudah membuatku lebih berpengalaman dalam urusan bagi-bagi waktu ini.

Aku juga harus berterima kasih banyak padamu atas pemikiranmu bahwa, “ijasah saja tidak cukup”. Kamu benar! Ijasah itu semacam sertifikat hitam di atas putih bahwa kamu sudah selesai melakukan kewajiban sekolah, tapi buat orang yang mau ngasih kerja, kemampuan dan segala baris-baris yang tertera di CV yang lebih penting. Terima kasih telah mengusahakan dua-duanya.

Selain berterima kasih berkali-kali, aku juga ingin menyampaikan beberapa saran buatmu. Ada beberapa saran yang cukup bijaksana yang aku punya, tapi sebagian besar adalah saran remeh-temeh yang aku pikir kamu perlu tahu. Jangan kaget ya.. Begini:

  1. Patah hati itu nggak bikin mati!

Iya…iya… sebagai dedek-dedek unyu 17 tahun aku paham rasanya patah hati: kayak hidup males, tapi mati muda belum siap gitu. Percayalah padaku, patah hati itu semacam kepleset pas naik motor kok. Kaget dan perihnya nggak bikin nyaman dan bikin bete.  Tapi seminggu kemudian, peduli apa dengan luka?!  😛

  1. Pandai-pandailah memaafkan dirimu sendiri

Ada beberapa kesalahan bodoh dan fatal yang kamu lakukan, yang efeknya bisa semacam akhir dunia gitu. Tapi selama dunia belum berakhir, masih ada waktu kok buat membenahinya. Maafkan dirimu sendiri, hadapkan muka ke depan, perbaiki! Let bygones be bygones, tapi jangan minum baygon!

  1. Berani ambil risiko deh!

Saat kamu seusiaku nanti, akan ada beberapa hal yang kamu sesali. Mayoritasnya malah bukan hal yang kamu lakukan, tapi hal-hal yang tidak kamu lakukan. Kamu akan bilang, “kenapa aku dulu nggak nerima tawaran jadi reporternya radio anu yang terkenal itu dulu pas awal mereka buka, kalau daftar sekarang nggak mungkin diterima deh….”

Kebanyakan karena kamu terlalu cari aman dan tidak berani ambil risiko sih. Ingatlah bahwa: selama tidak melanggar hukum, tidak merugikan orang lain, tidak bikin mati, dan tidak berdosa ya udah sih lakuin aja! 😀

  1. Teman dan “teman”

Kamu akan ketemu orang yang mengaku teman, tapi dia membicarakan keburukanmu di belakang, dan berkata buruk tentang kamu. Yang model begitu sih jangan digubris. Mungkin dia cuma kurang piknik.

Ada juga teman yang akan tetap menjadi teman. Bukan karena mereka 100% menerima kamu apa adanya, tapi karena mereka paham apa arti teman. Mereka lebih suka memberikan nasihatnya di depanmu, meski beberapa hal akan terdengar menyakitkan, tapi itu lebih baik.

  1. Jangan kebanyakan nyinyir, nanti bibirmu kesampluk kronjot!

Hahahaa… pada akhirnya nanti kamu akan paham kenapa aku lebih suka “ngomyang halus” alias menulis puisi  atau tidur daripada nyinyir, mencibir, atau menggunjingkan orang sampai bibir mecucu. Iya. Aku takut bibirku kesampluk kronjot.

  1. Jangan takut mimpi ketinggian!

Selain kesampluk kronjot, ada istilah lain yang akan kamu kenal saat kamu seusiaku, “kesampluk pesawat”. Biasanya digunakan untuk orang yang ngomongnya ketinggian atau mimpinya ketinggian.

Kalau ngomong ketinggian sih mending jangan ya. Ndadak nganggo dingklik!  Tapi kalau kamu bermimpi, jangan takut ketinggian, karena bisa jadi bukan kesampluk pesawat, tapi justru dijemput pesawat.

NB: Di usia sekianbelas tahun nanti, dalam kelelahan kuliah dan bekerja, hampir selalu tidak punya uang untuk makan siang, dan keuangan keluarga pas-pasan kamu akan bermimpi untuk pergi ke luar negeri . Lalu kamu membuat paspor. Kemudian kamu dicibir, “ati-ati mimpi ketinggian, nanti nyangkut di tower”. Jangan sedih, di usiamu yang ke-duapuluhsekian, kamu akan tahu rasanya naik tower di beberapa negara tanpa kesampluk pesawat. #halah

  1. Mimpimu akan tercapai satu-persatu jika kamu percaya dan buat rencana

Kabar baik! Hampir semua impianmu di umur belasan sudah terwujud saat ini. Tapi ya maaf, impian masa kecilmu buat jadi petinju kayaknya harus dipupuskan begitu saja ya… *ngikik*

Tapi kamu tidak akan kehabisan stok mimpi karena aku pun makin ugal-ugalan dalam bermimpi. Karena bagiku, hidup akan jadi membosankan kalau tidak ada yang diperjuangkan. #pret

Tapi untuk mencapainya, kamu butuh dari sekadar percaya. Kamu butuh rencana! Ingat pesan mbah Benyamin Franklin ini

kalau kamu gagal membuat rencana, berarti kamu sedang merencanakan kegagalan.

  1. Selalu ada harapan jika kamu percaya kuasa Tuhan

Nanti akan tiba waktu di mana benar-benar tidak satu pun manusia berada di pihakmu saat kamu menghadapi masalah terbesar di usiamu yang ke-duapuluhsekian. Tapi jika Tuhan yang menolongmu, manusia bisa apaaaa? 😛

  1. Perempuan tidak harus bisa memasak

Terima kasih karena kamu punya hobi masak. Meskipun aku tahu bahwa banyak masakan yang kamu buat di usiamu rasanya amburegul ameseyu a.k.a amburadul, tapi kamu tidak menyerah dan akhirnya aku yang dapat untungnya.

Benar! Perempuan memang tidak harus bisa memasak, tapi tiap hari dipuji suami karena masakan yang enak itu rasanya luar biasa! 😀

Ya udah, sementara gitu aja dulu. Sekian dan terima undangan makan-makan,

(Terry, duapuluhsekian)

Pic attributed to: freevector.com

Final Audisi Meet The Labels 2014, Kompetisi yang Berbalut Intim

Final Audisi Meet The Labels 2014, Kompetisi yang Berbalut Intim

Seberapa sering sih kita dengar kata-kata Yang Muda Yang Berkarya? Sering banget kan?

Tapi seberapa sering kita tahu anak-anak muda diberi kesempatan untuk membuat karya mereka tersampaikan ke lebih banyak audiens?

Nah! Kesempatan itu yang sebenarnya sedang diberikan oleh LA Lights lewat program MeetTheLabels 2014 di akhir tahun ini. Mereka memberi peluang kepada para musisi muda Indonesia buat bertemu langsung dengan label rekaman yang bisa jadi jalan emas untuk membuat karya mereka di dengar oleh audiens yang lebih luas.

Proses seleksi yang sudah lama dilakukan ini akhirnya menghasilkan 12 Finalis yang keren-keren. Tidak semua dalam format band lho, ada juga dalam format Solo.

Selain itu juga tidak hanya musisi beraliran pop seperti Radicta, Melisa Putri, dan Nadias saja yang diterima menjadi finalisnya. Ada juga musisi aliran metal (Dypslasia), pop blues (L-Project), pop Acoustic (Kevin L), alternative (Jado), pop alternative (YUNAN dan Mowns), pop rock (Tosca), pop rock alternative (Direct Messages), dan Rap & Reggae (The Ikan Bakars). Macem-macem deh!

Kebetulan acara Final Meet the Label 2014 ini diadakan di Jogja, jadi saya bisa clinguk-clinguk sedikit ikut hore-hore sambil mengamati kegiatan apa saja yang dijalani oleh para finalis ini.

Acara pertama dan menurut saya cukup penting bagi para finalis adalah Dinner & Mingle Time di  Balcony Resto. Di acara ini para finalis dan label makan malam bersama. Di kesempatan ini mereka bisa saling melakukan “pe-de-ka-te”. Para finalis bisa melakukan sepik-sepik ceria nih ke label, siapa tahu mereka jodoh dengan label dan dapetin kontrak.

Para finalis Meet The Label 2014 di Dinner & Minggle Time
Para finalis Meet The Label 2014 di Dinner & Minggle Time

Ada 7 label rekaman yang berpartisipasi di acara ini: 267 Records, Sony Music Entertainment, Alpha Records, E-motion Entertainment, Seven Music, Universal Music Indonesia, dan Warner Music Indonesia. Label ini yang nantinya akan memilih siapa yang akan mendapatkan kontrak rekaman dari mereka. Jadi pastinya para finalis harus benar-benar menunjukkan kemampuan mereka, sekaligus meraih hati para label di acara Dinner & Mingle Time ini.

Selain acara makan malam dan mingle alias berbaur bersama, juga ada jam session dari para finalis. Acara ini seru banget lho, karena musik mereka enak banget buat mengiringi makan malam dan acara keakraban antar finalis maupun dengan label. Pastinya juga seru buat penonton kayak saya sih yang ikut tepuk-tepuk dan teriak “lagi…lagi…lagi…” 😛

Radicta sedang membawakan lagu "Cinta Ini Milik Siapa"
Radicta sedang membawakan lagu “Cinta Ini Milik Siapa”
Jado nge-jam di acara Dinner & Mingle Time
Jado nge-jam di acara Dinner & Mingle Time
Tosca membawakan lagu "All About That Bass"
Tosca membawakan lagu “All About That Bass”
Kevin L dan Melissa Putri nge-jam bareng nih...
Kevin L dan Melissa Putri nge-jam bareng nih…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah acara Dinner & Mingle Time, rencananya para finalis akan dibagi menuju ke tiga titik berbeda, yaitu di Titik Nol, Malioboro, dan Angkringan Jos untuk melakukan Crazy Challenge. Apa sih Crazy Challenge-nya? Mereka ini akan diberi waktu untuk ngamen bergantian dan mengumpulkan koin dari orang yang menonton mereka. Yang paling banyak mengumpulkan koin akan mendapatkan hadiah khusus di acara puncak.

Mendengar penjelasan tentang acara ini, saya langsung tertarik buat ikutan nonton. Saya memilih untuk menuju Titik Nol karena searah dengan jalan saya pulang dan kebetulan saya suka dengan lokasi ini. Ada banyak orang nongkrong dan pastinya cocok banget buat lokasi Crazy Challenge para finalis.

Sayangnya, waktu saya sampai di lokasi, hujan mulai turun. Jadi saya berteduh di Benteng Vredeburg biar tidak kehujanan dan masuk angin, sambil menanti rombongan Finalis MeetTheLabels bergerak dari Balcony Resto.

Setelah sekitar 10 menit menunggu, hujan makin deras. Lalu saya mendapatkan info dari panitia penyelenggara bahwa acara Crazy Challenge dibatalkan karena cuaca yang kurang menguntungkan.

Yah… saya agak kecewa pada awalnya. Tapi apa boleh buat, daripada para finalis kerokan karena masuk angin, lebih baik mereka istirahat dulu karena mereka punya jadwal yang padat. Rencananya mereka juga akan pergi ke Solo, mengunjungi Studio Lokananta, sebelum malam final.

Walaupun saya tidak bisa mengikuti acara mereka selanjutnya, tapi saya yakin acaranya keren banget. Dan sebenarnya iri sih melihat update acara dari teman-teman blogger lain yang mengikuti acaranya sampai akhir.

Ini acara seru banget deh!

Jadi, buat kamu yang punya hobi bermusik dan merasa punya talenta, boleh lho tengok-tengok info tentang MeetTheLabels atau cek timeline @LALights dan tagar #MLT2014FINAL siapa tahu kamu bisa daftar tahun depan dan menjadi salah satu yang berkesempatan mendapat kontrak rekaman dari label.

Ingat…Ingat! Kesempatan itu tidak selalu datang dari langit, tapi bisa datang dari info di artikel ini. #halah

UCAPAN ADALAH PILIHAN

UCAPAN ADALAH PILIHAN

Perhatian: Mohon dibaca sampai selesai sebelum memutuskan untuk emosik! 😛

Dua hari yang lalu, di saat kepala saya sedang sakit-sakitnya, saya membaca perdebatan seru antara tiga orang teman yang saya kenal baik. Perdebatan sosial media di bulan Desember, apalagi kalau bukan urusan mengucapkan atau tidak mengucapkan ucapan selamat hari Natal. Perdebatannya seru karena sampai pada titik di mana ada yang menuliskan kata-kata yang bikin KZL gitu.

Karena saya terlalu sibuk dengan sakit kepala saya, jadi saya tidak ikutan nimbrung. Saya malah jadi nulis ini!

Sebelumnya harus saya jelaskan bahwa saya tidak akan menulis keresahan hati saya melalui sudut pandang agama, karena jelas akan jadi bias karena saya adalah pemeluk salah satu agama, selain juga pemeluk setia suami saya.

Jadi saya akan bicara cukup sebagai orang yang merdeka di negara merdeka saja.

Persepsi saya tentang kemerdekaan juga hampir sama dengan cara saya memandang kebebasan saya untuk mengucapkan atau tidak mengucapkan ucapan apapun. Mulut ini milik saya dan saya yang akan mengatur ucapan apa yang akan keluar atau yang tidak. 100% tanggung jawab saya.

Ketika saya memilih untuk mengucapkan sesuatu, yang itu tidak saya maksudkan untuk menyakiti orang lain, apakah saya tidak boleh? Tapi apakah saya boleh mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mengucapkan hal yang sama dengan apa yang saya ucapkan adalah kolot?

Di lain sisi, jika saya memilih untuk tidak mengucapkan, apakah tidak boleh? Apakah orang lain punya hak untuk memaksa saya mengucapkan sesuatu? Tapi apakah saya berhak mengatakan bahwa orang yang mengucapkan sesuatu yang tidak saya ucapkan adalah orang yang liberal belgedes blah-bleh-bloh apa gitu?

Saya pikir sebagai orang merdeka, kita berhak melakukan apa saja. Tapi kita pun semestinya ingat bahwa batas dari kemerdekaan kita adalah kemerdekaan orang lain. Tidak bisakah kita merayakan kemerdekaan diri kita tanpa merusak wilayah kemerdekaan orang lain?

Sampai pada poin ini saya yakin pasti ada yang sedang panas hati pingin mendebat saya dengan alasan bahwa ini diatur oleh agama ini begini dan begitu.

Mas, mbak, dedek-dedek…

Agama itu urusannya sampeyan dengan Tuhan. Urusannya pribadi beud gitu. Jadi sebagai orang merdeka, sampeyan boleh berpegang teguh pada apa yang sampeyan percayai. Tapi bukan berarti sampeyan bisa menghakimi yang berbeda dengan apa yang sampeyan yakini. Tuhan adalah hakim dari segala hakim, tidak perlu sampeyan wakili.

Tapi Mas, mbak, dedek-dedek…

Agama itu urusannya sampeyan dengan Tuhan. Kalau sampeyan percaya bahwa ajaran Tuhan yang sampeyan percaya bilang tidak apa-apa kalau sampeyan ngucapin selamat ya udah sih. Tapi ya tidak usah menghakimi yang tidak mengucapkan dengan istilah kolot, fundamental, atau apa mbuh gitu. Dengan melakukan sesuatu bukan berarti sampeyan bisa menghakimi yang berbeda dengan apa yang sampeyan yakini. Tuhan adalah hakim dari segala hakim, tidak perlu sampeyan wakili.

Seandainya hanya sebatas menyampaikan dan menasihati ya tidak apa-apa. Itu baik. Seperti kata ibu saya, “nasihatilah seseorang dengan lemah-lembut, jika mereka menolak ya sudah tidak apa-apa. Orang dewasa itu tanggung jawabnya masing-masing”.

Masalah perdebatan hot begini ini hampir selalu muncul di hari-hari tertentu. Yang begitu itu-itu-itu terus itu. Tiada bosannya. Mungkin benar sebuah pernyataan yang pernah saya baca(maaf saya lupa itu siapa yang menyampaikan) bahwa kebebasan berbicara kita mungkin sebagai kompensasi kebebasan berpikir kita. Iya. Kita bebas bicara dan ngomentari orang sebagai kompensasi kurangnya kita menghargai orang lain yang punya pemikiran yang berbeda dengan kita.

Jadi bagaimana urusan toleransi?

Menurut saya, tolerasi itu sama dengan memberikan kesempatan orang lain menjalankan apa yang mereka percaya tanpa mengorbankan apa yang saya percaya. Selama apa yang dipercaya tidak melanggar nilai kemanusiaan, ya udah sih… nggak usah diribetin! 😛

Kalau menurut kamus Webster Online, kata “tolerance” artinya adalah willingness to accept feelings, habits, or beliefs that are different from your own. Jadi, kalau ada yang pendapatnya berbeda untuk urusan ucap tidak mengucap ini haraplah saling bertoleransi.

Toleransi dalam hal ini menurut saya bukan diukur dari mengucapkan selamat atau tidak mengucapkan selamat, tapi pada memahami pilihan orang, baik yang mengucapkan maupun yang tidak mengucapkan.

Ngucapin atau nggak ngucapin adalah pilihan. Dan apapun pilihan saya, bisa jadi beda atau sama dengan pilihan sampeyan. Nggak masalah kan ya?

Ya ampun! Ternyata jadi panjang juga saya ngocehnya.

Ya ampun! Ketika ilmuwan NASA memprediksi mulai tahun 2017 ada kemungkinan ratusan benda langit bisa nabrak bumi, kita masih mendebatkan urusan mengucapkan atau tidak mengucapkan? LLH! 😛

Perjalanan Rp 360.000 yang (Mungkin Sudah) Berkeliling Dunia Membantu Manusia

Perjalanan Rp 360.000 yang (Mungkin Sudah) Berkeliling Dunia Membantu Manusia

Kalau Anda seumuran dengan saya dan kuliah di universitas yang sama dengan saya, Anda pasti tahu bahwa uang sejumlah Rp 360.000 setara uang SPP kuliah saya masa itu.

Kalau Anda sudah membaca tulisan saya terdahulu tentang bagaimana masa kuliah saya, maka Anda akan paham bahwa tulisan ini nantinya tidak akan jauh-jauh dari perjuangan saya untuk tetap bisa bertahan di bangku kuliah. Tapi ada yang beda, kali ini saya akan menceritakan tentang uang sejumlah Rp. 360.000 yang telah membantu beberapa orang yang saya sendiri tidak tahu berapa jumlahnya dan siapa saja orangnya.

Tiga tahun yang lalu, saya bertemu dengan sahabat lama saya di KL Central. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan ke Singapura dan sahabat saya tersebut sedang dalam perjalanan ke Jepang. Sama-sama transit di Malaysia, kami memutuskan untuk makan siang bersama di KL Central.

Sambil makan, dia bertanya:

Neng, inget sama uang Rp 360.000 yang aku pinjamkan dulu padamu?

Aih… mana mungkin saya lupakan! Waktu itu saya sedang mengurus surat cuti kuliah karena tidak ada uang untuk membayar SPP, nah kebetulan sahabat saya ini berkunjung ke Jogja bersama sepupunya dan minta ditemani pergi ke Solo ke rumah Eyangnya. Saat tahu bahwa saya akan cuti kuliah karena tidak ada uang, dia langsung mengeluarkan uang pas Rp. 360.000 untuk saya agar bisa membayar kuliah.

Saya menolak pemberiannya. Saya tahu bahwa dia tidak akan mau menerima uangnya kembali. Dengan segala macam aset dan uangnya yang semacam tidak berseri itu, apalah artinya sejumlah Rp 360.000 itu untuknya. Sedangkan di sisi lain, saya tidak ingin dianggap memanfaatkan sahabat. Tetapi dia terus memaksa. Lalu saya paksa ganti untuk menganggap uang ini sebagai hutang.

Satu bulan sesudah saya membayar kuliah, saya sudah punya cukup uang untuk membayar hutang tersebut. Saya telepon dia dan saya minta nomor rekening untuk transfer uang tersebut. Seperti tebakan saya, dia menolak. Tapi saya terus mendesak dan mengatakan bahwa dia sudah berjanji pada saya untuk menganggapnya sebagai hutang.

Karena lelah berdebat dengannya dan pulsa saya makin tipis, maka kami sepakati bahwa uang tersebut akan saya simpan untuk kemudian diberikan kepada orang lain yang membutuhkan sambil memberitahukan kepada si penerima uang kalau suatu saat sudah punya uang, silakan bantu orang lain, tidak perlu membayarnya kepada saya kembali. Semester depannya, saya berikan uang tersebut kepada adik kelas saya yang saat itu membutuhkan uang untuk bayar kuliah juga.

Saya cukup kaget mengapa sahabat saya kemudian menanyakannya kembali. Saya jawab, “Iya. Aku ingat. Kenapa emangnya?”

Jawabannya cukup mengejutkan!

Sebulan yang lalu aku ketemu mahasiswa Indonesia di salah satu univ di Eropa. Kami ketemu pas di KBRI. Dia cerita banyak dan sampai pada sebuah kisah bahwa dia bisa berangkat ke sana karena ada yang meminjaminya uang Rp. 360.000 untuk bayar tes TOEFL waktu itu. Lalu dia bilang bahwa orang yang meminjami uang itu meminta dia untuk memberikan uang tersebut pada mahasiswa Indonesia lain yang mungkin membutuhkannya. Dia bilang itu uang awalnya dari orang Jogja yang katanya juga cuma dipinjami temannya juga.

Ya ampun. Tiba-tiba saya merasa kehilangan kata-kata. Saya yakin bahwa saya tidak punya satu teman pun di universitas yang disebutkan oleh sahabat saya itu. Jadi bisa dibilang saya bahkan tidak kenal dengan orang tersebut. Jadi saya bahkan tidak tahu dia orang keberapa yang telah memanfaatkan uang tersebut.

Saya dan sahabat saya hanya tersenyum sepanjang siang, membayangkan uang dengan jumlah yang tidak terlalu besar itu telah membantu orang-orang yang bahkan tidak kami kenal.

Anda mungkin bertanya mengapa tiba-tiba saya menuliskan kisah ini padahal sudah tiga tahun yang lalu saya bertemu sahabat saya itu dan mendapatkan cerita bahwa uang itu sudah sampai Eropa kan?

Sebenarnya karena dua hari yang lalu saya mendapatkan pesan dari salah satu kenalan saya yang isinya:

Kalau ada teman mahasiswa yang sekiranya membutuhkan tambahan uang untuk membeli buku atau bayar kuliah, adik saya bisa meminjami. Tidak banyak jumlahnya, hanya Rp. 360.000 saja. Adik saya juga mendapatkan uang tersebut sebagai pinjaman berantai. Semoga bermanfaat.

Dan saat saya menuliskan ini, saya sedang menghubungi sahabat saya yang baik hati tersebut. Kami bercerita sampai berkaca-kaca. Sepuluh tahun uang tersebut telah membantu saya dan orang-orang yang bahkan tidak saya kenal. Bantuan dan keikhlasan itu telah menjadi rantai kebaikan.

Semoga menjadi amal jariahmu, Han! Amin.

 

catatan: gambar ilustrasi di atas saya ambil dari http://www.goskagit.com